Transformasi Sekolah: Membangun Organisasi Pembelajar dengan Growth Mindset
Kota Batu, 11 Oktober 2025 - Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Timur.
Dalam sesi yang berlangsung dari pukul 16.00 hingga 17.30 WIB, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, menekankan pentingnya adaptasi cepat, perubahan pola pikir (growth mindset), dan pengembangan sekolah sebagai organisasi pembelajar.
Wamen Fajar Riza Ul Haq mengawali paparannya dengan sebuah ilustrasi yang kontekstual dari Kota Batu sendiri. "Dahulu Kota Batu dikenal dengan sebutan Kota Apel, sekarang berubah menjadi Kota Jeruk. Karena banyak petani Apel yang berubah menjadi petani Jeruk. Perubahan ini menunjukkan adanya adaptasi dan pengambilan pilihan saat merawat apel semakin sulit," ujar beliau.
Analogi ini menjadi pesan utama bagi komunitas pendidikan: sekolah, guru, dan Kepala Sekolah harus belajar cepat, mengubah mindset, dan beradaptasi terhadap dinamika perubahan. Intinya, setiap warga sekolah harus menerapkan growth mindset.
Wamen menegaskan bahwa sekolah yang baik bukanlah yang memiliki teknologi paling canggih, sarana-prasarana lengkap, melainkan sekolah yang cepat belajar dan cepat beradaptasi dengan perubahan. Untuk mencapai hal ini, konsep Pembelajaran Mendalam (PM) harus diimplementasikan. PM membuat sekolah menjadi organisasi pembelajar sejati, di mana interaksi antara guru dan siswa harus hidup, kontekstual, dan terhubung dengan lingkungan sekitar, bahkan melibatkan kemitraan.
Beliau juga menyoroti pentingnya etos kerja baru di sekolah, yaitu membangun dua etos utama:
* Pembelajar Sepanjang Hayat (Life-long Learner)
* Pembelajar Cepat (Fast Learner)
Organisasi sekolah dituntut harus lincah, tangkas, dan solid. Dalam konteks ini, Kepemimpinan Kepala Sekolah (KS) memegang peranan krusial dalam menentukan kualitas pembelajaran.
Dalam pandangannya, peran Kepala Sekolah tidak bisa hanya bersifat administratif. Kepala Sekolah harus menjalankan Tiga Fungsi Kepemimpinan esensial:
* Kepala Sekolah Instruktif: Mengarahkan seluruh warga sekolah menuju tujuan yang jelas, selaras dengan visi dan misi sekolah.
* Kepala Sekolah Transformatif: Mendorong perbaikan dan perubahan fundamental, termasuk mengubah mindset guru dan siswa, serta membangun budaya positif.
* Kepala Sekolah Distributif: Mampu berbagi tugas kepada yang kompeten dan memperkuat teamwork di sekolah.
Untuk menopang kualitas pembelajaran, Wamen Fajar menyebutkan tiga faktor kunci:
* Kondisi Siswa: Siswa harus memiliki motivasi tinggi. Permasalahan fokus belajar pada siswa saat ini memerlukan intervensi, yang salah satunya dijawab oleh kementerian melalui program 7 KAIH.
* Guru Kompeten dengan Motivasi Tinggi: Kepala Sekolah harus mendorong guru untuk terus belajar dan menumbuhkan motivasi diri mereka.
* Manajemen Sekolah yang Inklusif dan Terpercaya: Penting untuk memperhatikan kinerja dan integritas guru, serta memberikan ruang dan kesempatan bagi guru-guru bertalenta.
Wamen Fajar Riza Ul Haq menutup sesi dengan memaparkan Lima Prinsip Organisasi Pembelajar (Learning Organization) yang harus dihayati dan diterapkan oleh sekolah:
* Personal Mastery: Kepala Sekolah harus mendorong guru untuk terus belajar hal baru dan belajar bersama. Intinya, jadilah Guru sekaligus Murid.
* Mental Model: Mengubah pandangan lama dan pola pikir ketika muncul inovasi atau hal baru dalam dunia pendidikan.
* Shared Vision: Menyatukan visi sekolah, guru, murid, dan orang tua untuk menumbuhkan rasa saling memiliki terhadap sekolah.
* Team Learning: Menciptakan budaya belajar bersama di sekolah, baik melalui peer teaching maupun komunitas belajar profesional.
* System Thinking: Memahami bahwa sekolah adalah bagian dari masyarakat sehingga setiap persoalan dapat melibatkan berbagai pihak untuk menemukan solusi holistik.
Pesan penutup yang paling fundamental adalah bahwa Kepala Sekolah harus mampu menjadi teladan, baik bagi guru maupun murid. Keteladanan ini menjadi fondasi utama bagi semua upaya transformasi pendidikan.