Selosoan, 25 November 2025

Oleh Administrator 2025-11-25 18:58:40 Dilihat: 84
Gambar Artikel

KH Nurbani Yusuf Ingatkan Bahaya "Mabuk Agama" dalam Pengajian Selosoan PCM Bumiaji

BATU – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bumiaji kembali menggelar pengajian rutin "Selosoan" pada Selasa sore (25/11/2025). Bertempat di Masjid Padhang Makhsyar, kegiatan yang berlangsung pukul 16.00 hingga 17.00 WIB ini menghadirkan pembicara KH. Nurbani Yusuf yang mengupas tema krusial dan relevan, yakni "Mabuk Agama".

Dalam ceramahnya, KH. Nurbani Yusuf mengajak jamaah untuk merenungi makna beragama yang benar tanpa terjebak dalam fanatisme buta. Beliau membuka kajian dengan menukil potongan Surah An-Nisa ayat 171, yang berisi peringatan Allah kepada Ahli Kitab agar tidak melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam beragama.

"Rasulullah SAW sendiri pernah mengingatkan umatnya: 'Janganlah kalian mengkultuskan aku, ingatlah bahwa aku adalah hamba Allah, utusan Allah'," ujar KH. Nurbani.
Peringatan ini menjadi sangat relevan di era sekarang, di mana fenomena pengkultusan terhadap tokoh ulama besar kian marak. Beliau menyoroti adanya jamaah yang meyakini tokoh tertentu memiliki keistimewaan mutlak hingga dijadikan tujuan utama pengabulan doa. Hal ini dinilai sebagai bentuk penyimpangan akidah atau ekstrem kiri.
Di sisi lain, muncul pula kelompok "ekstrem kanan" yang terlalu eksklusif. Kelompok ini dengan mudah menilai kelompok lain kafir hanya karena perbedaan pandangan.
"Mari kita selalu bertabayun (cek dan ricek) terhadap hal apapun yang terjadi di sekitar kita agar tidak terjebak pada salah satu ekstremitas tersebut," pesannya.

Untuk mempertegas bahaya "mabuk agama", KH. Nurbani menceritakan kisah tragis di masa lalu tentang Sayidina Ali. Saat itu, muncul seseorang yang merasa lebih hebat dan merasa lebih bertakwa daripada Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah kemudian bersabda akan munculnya kaum yang terlihat hebat ibadahnya—rajin mengaji, shalat, dan sedekah—namun sejatinya mereka keluar dari Islam karena kegemaran mereka mengkafirkan sesama Muslim.
"Contoh nyata adalah pembunuhan Sayidina Ali. Beliau dibunuh saat mengimami shalat Subuh justru oleh seorang penghafal Al-Qur'an yang tidak pernah tertinggal shalat berjamaah," jelas KH. Nurbani. Pelaku tersebut, menurutnya, adalah representasi orang yang mabuk agama; merasa paling benar hingga menghalalkan darah sahabat Nabi.

Menutup kajiannya, KH. Nurbani mengingatkan bahwa iman memiliki 70 cabang, mulai dari yang tertinggi Laa ilaha illallah hingga yang terendah menyingkirkan duri dari jalan. Muhammadiyah, tegasnya, memegang teguh paham Wasathiyah (pertengahan).
"Muhammadiyah tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Semuanya boleh asal tidak berlebihan dan diniatkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah," tuturnya.
Beliau juga mengimbau jamaah agar dalam segala urusan agama dikembalikan kepada putusan Tarjih untuk memastikan keamanan akidah dan menghindari sikap berlebihan. Di akhir sesi, beliau mengungkapkan rasa bangganya terhadap Muhammadiyah yang kini dikenal sebagai organisasi Islam terkaya di dunia berkat tata kelola yang amanah dan berkemajuan.
Kembali ke Beranda Bagikan via WhatsApp

Tinggalkan Komentar


Komentar Pembaca (1)

Muhtar Ahmadi, Banjarmasin

2025-11-28 04:41:25

Subhaanallah, inspiratif dan mencerahkan. Pas bingiit dg kondisi terkini dari sebagian ummat di negeri ini. Ketika qt meyakini sebuah kebenaran, kemudian digunakan sebagai alat untuk menuding bahwa pihak lain itu salah. dibumbui kata ; pasti, lagi. Moga2 warga Persyarikatan Muhammadiyah, senantiasa tampil hangat di tengah keragaman pendapat ummat, dewasa n smart menyikapi kondisi. Pesan Pak AR yg masih lekat di hati sy sampai saat ini : Menjadi warga Muhammadiyah itu harus BAHAGIA dan MEMBAHAGIAKAN. Itu.