Pendampingan Penjaminan Mutu Sekolah Muhammadiyah Kalimantan Selatan

Oleh Administrator 2025-12-01 14:14:14 Dilihat: 76
Gambar Artikel
BANJARMASIN – Upaya peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah terus digencarkan secara masif dan terstruktur. Kali ini, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar kegiatan "Pendampingan Penjaminan Mutu Sekolah Muhammadiyah" yang berlangsung selama empat hari, mulai Kamis hingga Minggu (27-30/11/2025), bertempat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

​Dalam agenda strategis berskala nasional ini, saya selaku Kepala SMP Muhammadiyah 8 Batu, mendapatkan amanah khusus untuk bertindak sebagai fasilitator. Kehadiran Windra bukan hanya sebagai pengamat, melainkan sebagai praktisi aktif yang berbagi pengalaman (best practice) dalam pengelolaan sekolah berkemajuan.

​Pendampingan Humanis, Bukan Mencari Kesalahan
​Berbeda dengan inspeksi konvensional, kegiatan ini membawa semangat kolaboratif. Windra menegaskan bahwa kehadirannya bersama tim fasilitator lainnya tidak diposisikan sebagai auditor yang mencari celah kesalahan atau mengkritisi kekurangan sekolah.
​"Kegiatan ini sama sekali bukan ajang perdebatan atau mencari-cari kesalahan. Spirit utamanya adalah pendampingan (coaching) untuk bersama-sama mewujudkan 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) serta memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK),"

​Tiga Fokus Utama
​Selama empat hari di "Kota Seribu Sungai", kami fasilitator fokus pada tiga pilar utama pengembangan sekolah:
​(1) Sukses SPMB: Merumuskan strategi jitu untuk meningkatkan jumlah murid baru melalui sistem Penerimaan Peserta Didik Baru yang efektif.
​(2) Peran Aktif Majelis: Mendorong Majelis Dikdasmen setempat untuk lebih proaktif dalam mengawal kualitas sekolah di wilayahnya.
​(3) Kolaborasi dan Sinergi: Membangun jejaring yang kuat antar-sekolah Muhammadiyah untuk maju bersama.

​Metode "Turun Tangan" Langsung
​Sebagai fasilitator yang juga merupakan praktisi Kepala Sekolah aktif, Windra melakukan pendekatan yang menyeluruh. Proses pendampingan dilakukan dengan melihat langsung kondisi riil di lapangan, mulai dari observasi interaksi guru dan murid, hingga meninjau kelayakan fisik bangunan, ruang kelas, serta sarana-prasarana pendukung.
​Selain observasi fisik, dilakukan pula wawancara mendalam (in-depth interview) dengan para Kepala Sekolah sasaran. Data yang diperoleh kemudian dituangkan dalam Instrumen Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.
​"Kami mendengar, melihat, dan kemudian memberikan masukan. Output akhirnya adalah rekomendasi perbaikan yang konkret agar sekolah-sekolah Muhammadiyah, khususnya di Kalimantan Selatan, bisa melesat maju dan menjadi pilihan utama masyarakat," pungkas Windra.
​Kegiatan ini diharapkan menjadi katalisator bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk terus berbenah, memastikan bahwa standar mutu bukan hanya sekadar dokumen di atas kertas, melainkan budaya yang hidup dalam ekosistem pendidikan sehari-hari.
Kembali ke Beranda Bagikan via WhatsApp

Tinggalkan Komentar


Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!