Dari Saleh Menuju Muslih

Oleh Administrator 2026-01-04 11:27:25 Dilihat: 98
Gambar Artikel

Dari Saleh Menuju Muslih: Panggilan Jiwa Pendidik SMP Muhammadiyah 8 Batu

Menjadi guru di SMP Muhammadiyah 8 Batu bukanlah sekadar profesi pengajar yang menggugurkan kewajiban jam kerja. Lebih dari itu, ini adalah sebuah misi ideologis dan spiritual. Dalam perjalanan mendidik, kita dihadapkan pada dua level kualitas diri: menjadi Saleh dan menjadi Muslih.

1. Memahami Posisi Kita: Saleh vs Muslih
* Guru yang Saleh adalah mereka yang baik secara pribadi. Ibadahnya tertib, datang tepat waktu, disiplin, jujur, dan memiliki akhlak mulia untuk dirinya sendiri. Ini adalah pondasi dasar. Namun, Islam tidak berhenti pada kesalehan individu.
* Guru yang Muslih adalah mereka yang telah selesai dengan kesalehan dirinya, lalu melangkah keluar untuk memperbaiki orang lain. Seorang Muslih tidak tenang melihat muridnya melanggar aturan, tidak diam melihat lingkungan sekolah yang kotor, dan gelisah jika prestasi sekolah stagnan.

Menjadi Saleh itu mudah dan disenangi banyak orang karena ia tidak mengusik kenyamanan orang lain. Namun, menjadi Muslih itu berat dan menantang. Para Nabi dimusuhi bukan karena mereka Saleh, melainkan karena mereka Muslihโ€”mereka berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Di SMP Muhammadiyah 8 Batu, kita tidak hanya diminta untuk menjadi orang baik (Saleh), tetapi dituntut untuk menjadi agen perubahan (Muslih). Kebaikan kita harus menular, memperbaiki karakter siswa, dan memajukan kualitas sekolah.

2. Iman adalah Kepedulian (Care)
Seringkali kita mengukur iman hanya dari segi ibadah kita. Padahal, Rasulullah SAW memberikan tolak ukur yang sangat sosial: Iman adalah Kepedulian.
Sebuah narasi hadits menegaskan prinsip ini:
> "Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim)
>
Dalam riwayat lain yang menyentuh esensi kepedulian sosial, Rasulullah SAW bersabda:
> "Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya..." (HR. Muslim)
>
Maknanya bagi Guru:
Jika tidak ada kepedulian (care), maka perlu dipertanyakan kesempurnaan iman kita.

* Seorang guru yang beriman tidak akan "masa bodoh" melihat muridnya kesulitan belajar atau bermasalah dalam akhlak.
* Seorang guru yang beriman tidak akan cuek melihat fasilitas sekolah rusak atau kotor.
* Seorang guru yang beriman akan merasa sakit dan gelisah jika sekolahnya mengalami kemunduran.

Kepedulian adalah bukti konkret bahwa iman itu hidup di hati kita. Tanpa kepedulian terhadap sekolah dan murid, iman hanyalah klaim tanpa bukti.

3. Motivasi Bagi Guru
Jadikanlah setiap langkah kaki menuju sekolah sebagai langkah seorang Muslih. Kita menyadari bahwa memperbaiki manusia (siswa) jauh lebih sulit daripada memperbaiki benda mati. Akan ada tantangan, kelelahan, dan mungkin kekecewaan.
Namun ingatlah, derajat Muslih jauh lebih tinggi di hadapan Allah SWT.
* Saleh menyelamatkan diri sendiri.
* Muslih menyelamatkan satu generasi.

Mari kita bangun budaya Peduli. Peduli pada kebersihan kelas, peduli pada shalat siswa, peduli pada perkembangan akademik mereka, peduli pada karakter siswa dan peduli pada nama baik sekolah.
Jadilah guru yang ketika hadir dinanti, ketika mengajar menginspirasi, dan keberadaannya membawa perbaikan nyata. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (Khairunnas anfa'uhum linnas).
Kembali ke Beranda Bagikan via WhatsApp

Tinggalkan Komentar


Komentar Pembaca (1)

ABC

2026-01-04 11:34:12

Mak jleb! ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ™๐Ÿผ